top of page

YES, I AM


Yesaya 6:1-8 adalah salah satu pasal yang sangat penting dalam kitab Yesaya. Ini adalah pengalaman Yesaya yang luar biasa ketika dia menerima panggilan dari Allah untuk menjadi seorang nabi. Ini memberikan wawasan yang mendalam tentang panggilan rohani dan ketaatan kepada Allah. Pasal ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Uzia, seorang raja yang luar biasa kuat dan sukses dalam sejarah Israel. Yesaya adalah seorang nabi yang melayani pada waktu ini, dan panggilannya terjadi pada tahun Raja Uzia meninggal.

Kejadian ini diperkirakan terjadi pada tahun 740 SM. Sekalipun Yesaya mungkin sudah bernubuat sebelumnya, kini dia menerima penglihatan dari Allah, disucikan, dan diberikan perintah khusus untuk menyampaikan firman Allah kepada umat yang buta, tuli, dan tidak peka secara rohani. Penglihatan ini memberikan Yesaya pemahaman yang tepat tentang amanat dan panggilannya. Penglihatan ini menyatakan salah satu pokok utama kitab ini, yaitu bahwa kemuliaan, keagungan, dan kekudusan Allah menuntut bahwa mereka yang melayani Dia juga harus kudus. Pasal dimulai dengan kata-kata "Pada tahun raja Uzia meninggal, aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan mulia." Ini adalah pengalaman yang luar biasa di mana Yesaya memiliki penglihatan tentang Allah sendiri, yang duduk di atas takhta surgawi. Pengalaman ini menggambarkan kemuliaan, kuasa, dan keagungan Allah.

Di sekitar takhta Allah, ada makhluk surgawi yang disebut serafim. Mereka memiliki enam sayap dan memuji Allah dengan nyaring, berkata, "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam; seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya." Serafim adalah makhluk malaikat bertingkat tinggi; kata ini mungkin mengacu kepada makhluk-makhluk hidup yang dinyatakan juga di bagian yang lain dalam Alkitab. Nama mereka (harfiah -- "makhluk yang menyala") kemungkinan menunjukkan kemurnian mereka sebagai yang melayani Allah di sekitar takhta-Nya; mereka mencerminkan kemuliaan Allah sedemikian rupa sehingga kelihatan seperti terbakar. Serafim yang suci ini mencerminkan suci dan kemuliaan Allah.

Ketika Yesaya melihat kemuliaan Allah dan mendengar serafim memuji-Nya, dia merasa kecil dan tidak berdaya. Dia merasa berdosa dan tidak pantas berada di hadapan Allah yang kudus. Ini mencerminkan kesadaran diri yang mendalam tentang dosa dan kebutuhan akan pertobatan. Ketika Yesaya merasa tidak berdaya, salah satu serafim mengambil bara api dan menyentuh bibir Yesaya, menyucikannya dari dosa. Setelah Yesaya dibersihkan, Allah berbicara dan bertanya, "Siapakah yang akan Kuutus? Siapakah yang akan menjadi utusan-Ku?", Yesaya dengan rendah hati menjawab, "Ini aku, utuslah aku." Inilah panggilan Yesaya menjadi seorang nabi. Dia menerima misi untuk memberitakan firman Allah kepada bangsanya.

Keseluruhan pengalaman ini menunjukkan pentingnya ketaatan kepada Allah. Yesaya, meskipun merasa tidak berdaya, bersedia untuk patuh kepada panggilan Allah. Ketaatan Yesaya adalah keteladanan bagi kita semua untuk merespons panggilan Allah dalam hidup kita. Pasal ini mengajarkan tentang kemuliaan Allah, kesadaran akan dosa, pertobatan, dan pentingnya ketaatan kepada panggilan rohani. Mari kita menekankan pentingnya ketaatan kepada Allah, kesadaran akan dosa, dan pentingnya merespons panggilan rohani dalam sehingga melalui kisah hidup Yesaya yang merespons panggilan Allah dan bagaimana panggilan itu membawanya menjadi seorang nabi yang berpengaruh dalam sejarah Israel dapat memberkati adik-adik sekolah minggu yang kita layani.


Download Bahan disini



30 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page